Rabu, 06 April 2011

KISAH CINTA RINA

Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa melupakannya, yang ada dalam pikiranku saat ini hanya ada dia seorang. Dia yang mengubah aku menjadi sosok yang jauh lebih baik, dia satu-satunya cowok yang aku impi-impikan selama ini. Dia adalah cowok termanis yang pernah aku temui. Nama cowok itu Dimas, cowok berkulit putih, bermata belok, berotak cerdas, dan berparas ganteng itu telah memikat hatiku. Dia bagaikan separuh hatiku yang selama ini hilang dalam hidupku.

Selama ini aku memendam perasaanku padanya, pertemuan yang tak sengaja dan tak biasa itu yang membuat aku semakin menyukainya. Aku senang mengenalnya, terkadang aku berharap suatu saat nanti dia akan berbalik menyukaiku. Meskipun sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia tertarik padaku. Sudah lama aku merasakan hal itu, mulai dari caranya memandangiku, bersikap baik padaku, bahkan dia sangat menjaga omongannya setiap berbicara padaku. Apakah itu semua tanda-tanda positif yang dia berikan sebagai ungkapan rasa sayangnya padaku ?! Entahlah.

Suasana kampus hari ini begitu sepi seperti biasa, maklumlah semua mahasiswa sudah tidak begitu rajin lagi datang ke kampus. Lain halnya dengan MaBa (Mahasiswa Baru) semua MaBa berbondong-bondong dengan semangatnya masuk kedalam kelas. Bahkan ada MaBa yang takut datang ke kampus karena embel-embel senior di mata mereka itu sangat menyeramkan dan pastinya mereka takut di pajak-in sama seniornya, ada juga yang dengan beraninya menantang senior dengan sok memberanikan diri. Aduh, pokoknya kacau balau dech !!!

“Udah seminggu belakangan ini, gue kok ngga pernah ngelihat Kak Dimas lagi yach ?!”.

“Ngga usah lebay dech Rin, lagian wajar aja kan kalo Kak Dimas jarang datang ke kampus. Selain karena dia udah sarjana, dia kan juga udah kerja and ngelanjutin kuliah S2-nya di UGM.”

“Iya, gue tahu sich kalo dia udah kerja and ngelanjutin kuliah S2-nya, tapi masa sich dia ngga pernah datang kesini lagi. Dia kan idola gue, jadi wajar banget kan kalo gue kangen?!”

“Apa !!! Lo ngga salah ngomong nich, kalo lo kangen ma Kak Dimas?”

“Kenapa lo kaget? Bukannya lo udah tahu kalo gue emang naksir ma dia.”

“Duh Rin, gue kirain lo itu cuma sekedar kagum doank ma dia. Yang gue tau, lo itu paling susah yang namanya jatuh cinta, kok bisa-bisanya sich lo tuch naksir dia?”

“Tadinya sich, gue juga sempat berpikir sama kayak lo, kalo gue tuch salah mengartikan perasaan gue terhadap Kak Dimas. Apalagi gue kenal ma Kak Dimas hanya dalam kurun waktu yang terlalu singkat, lebih tepatnya sich hanya sekitar tiga bulanan gitu.”

“Tapi lo sendiri yakin ngga ma perasaan lo?”

“Menurut lo?!”

“Yach, kok lo balik nanya gue sich. Tapi kalo menurut gue sich perasaan suka lo ma Kak Dimas tuch standar banget !!!”

“Maksud lo?!”

“Maksud gue, lo itu cuma sekedar kagum aja ma dia. Soalnya setahu gue, yang namanya jatuh cinta itu tanda-tandanya bukan seperti apa yang lo rasain sekarang. Lo ngerti kan maksud omongan gue barusan?”

“Sebenarnya gue tuch bingung dengan perasaan gue sendiri. Di sisi lain gue sering mengagungkan dia, tapi dari lubuk hati yang paling dalam (cieleh…. so sweet !!!) gue ngga bisa nerima kekurangan yang suatu saat akan nampak di depan mata gue sendiri.”

“Gue ngga ngerti maksud ucapan lo barusan?”

“Maksud gue tuch, gue itu ngga bisa nerima kalo suatu saat nanti gue akan lihat sisi negatifnya dia. Karena yang gue tahu, dia tuch udah termasuk tipe cowok yang hampir mendekati kata sempurna.”

“Emang betul kok yang lo ucapin barusan, hanya saja yang perlu lo ingat Kak Dimas tuch hanya manusia biasa yang penuh dengan banyak kekurangan. Jadi, lebih baik lo jangan terlalu memuji atau mengagungkan dia.”

“Lo ada benar juga sich, mungkin ini semua cuma perasaan yang berlebihan aja.”

Begitulah curahan hatiku ke Sinar pada siang itu. Waktu telah berlalu, dan Aku tidak pernah sama sekali melihat Kak Dimas lagi. Meskipun aku masih sering mencari-cari Kak Dimas, ternyata itu semua hanya karena perasaan yang berlebihan saja.

***

Aku tak menyangka bahwa hari sabtu kemarin Kak Dimas datang ke rumah dengan membawa setangkai bunga mawar merah yang masih terbungkus rapih nan indah.

“Assalamu’alaikum, Rin.”

“Wa’alaikum salam. Eh… Kak Dimas, silahkan masuk kak. Oya Kak Dimas kesini ma siapa?”

“Aku datang sendirian kok kesini. Oya ini untuk kamu.” Jawab Kak Dimas dengan memberikan setangkai bunga mawar merah.

“Makasih yach kak. By The Way bukannya Kak Dimas ngga tahu alamat rumah aku?”

“Rin… Rin… Aku kan punya mulut untuk nanya alamat rumah kamu ke teman kamu.”

“Benar juga sich. Terus, maksud kedatangan Kak Dimas kesini itu untuk apa? Maaf yach kak, kalo aku banyak nanya?”

“Ngga papa kok. Ehm… Maksud kedatangan aku kesini untuk membicarakan hal yang penting dan serius ma kamu.”

“Emangnya hal serius apa yang ingin kakak bicarakan ma aku?”

“Sebelumnya maafin aku, karena aku ngga pernah peka dengan perasaan yang selama ini aku rasain ke kamu.”

“Maksudnya? Aku ngga ngerti dengan omongan kakak barusan?”

“Maksud aku, selama ini aku udah menjadi orang yang sangat bodoh. Karena aku selalu menghindar dari kamu.”

“Menghindar dari aku? Aku semakin ngga ngerti dengan omongan kakak? Kalo begitu, aku ambilin kakak minuman dulu yach, mungkin dengan meminum secangkir teh manis hangat, kakak bisa bicara dengan tenang.”

Aku berlalu secepat mungkin kedalam dapur untuk menyiapkan minuman untuk Kak Dimas dengan harapan agar dia jauh lebih tenang. Tak lama kemudian aku menyajikan minuman di atas meja dan mempersilahkan Kak Dimas untuk meminum secangkir teh manis hangat buatanku.

Setelah meminum secangkir teh yang sudah aku sajikan Kak Dimas pun memulai pembicaan yang tertunda tadi, dengan menarik nafas yang panjang, Kak Dimas memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah, makasih yach Rin untuk teh manisnya. Huft… Sebenarnya aku itu… Eng… A… a…. ku… Aku…”

“Kok Kak Dimas jadi gagap gitu sich, emangnya aku nakutin yach sampe-sampe Kak Dimas susah untuk ngomong?”

“Eh, bukan… bukan begitu maksudku… Ehm… Kamu jangan salah paham dulu yach, soalnya aku sama sekali ngga bermaksud buat kamu jadi bingung kayak gini. Karena sebenarnya aku emang rada-rada susah untuk ngomong masalah ini.”

“Aduh… Sekali lagi maaf yach kak, soalnya aku malah makin ngga ngerti nich dengan maksud Kak Dimas. Yang ada aku malah makin penasaran?!”

“Bismillahirrahmanirrahim. Rin, semenjak aku mulai kenal ma kamu, aku udah terlanjur jatuh cinta ma kamu.”

“Hah?! Kak Dimas jatuh cinta ma aku? Emangnya aku ngga salah dengar nich? Udah dech kak, ngga usah bercanda kayak gini. Ngga lucu tahu ngga?!”

“Bercanda? Siapa yang bercanda? Aku ngga lagi bercanda Rin, aku serius dengan apa yang aku ucapin barusan. Aku Jatuh Cinta ma Kamu. Dan hal itu ngga akan bisa aku hapus dari hati aku, karena perasaan itu udah lama ada.”

“Udah lama ada? Emangnya sejak kapan Kak Dimas ngerasa kalo kakak itu jatuh cinta ma aku?”

“Semenjak kamu menitikkan airmata di depan aku. Kamu ingat kan, dengan kejadian beberapa waktu lalu itu? Dan sampai sekarang aku ngga bisa ngelupain kamu dari ingatan aku.”

“Selama itukah Kak Dimas memendam perasaan ke aku? Bukannya waktu itu Kak Dimas udah punya pacar? Bahkan Kak Dimas sendiri yang tanpa sengaja menceritakan pacar kakak itu dengan rasa bangga di depan aku?”

“Aku ngga pernah bangga mempunyai pacar seperti mantan aku itu, karena aku jauh lebih bangga dan bahagia jika kamu yang selalu ada di dekat aku untuk detik ini, besok dan seterusnya.”

“Tapi kenapa Kak Dimas baru mengatakan hal ini sekarang? Selama ini aku hanya menyangka kakak baik ma aku, karena kakak udah anggap aku seperti adik Kak Dimas sendiri. Aku sama sekali ngga pernah punya khayalan kalo Kak Dimas punya perasaan itu ke aku.”

“Rin, aku udah jatuh cinta ma kamu. Dan perasaan aku itu udah lama bersemi dihatiku, jadi aku mohon ke kamu, please jangan tolak aku. Karena aku merasa kalo kamu adalah Jodoh yang telah Allah SWT kirimkan untuk aku. Karena aku berharap kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti bukan perempuan lain.”

“Menjadi ibu dari anak-anak Kak Dimas nantinya?”

“Iya. Tujuan aku datang ke rumah kamu malam ini, karena aku ingin melamar kamu untuk menjadi pendamping hidup aku. Apakah kamu mau menikah denganku?”

“Aku butuh waktu kak untuk menjawab pertanyaan kakak barusan. Karena masih banyak kewajibanku yang harus aku tunaikan. Salah satunya adalah kewajiban aku sebagai seorang mahasiswi yang untuk sekarang belum bisa aku tinggalkan.”

“Tapi sampai kapan aku nungguin jawaban yang pasti dari kamu? Sebab aku butuh jawaban kamu secepatnya?”

“Baik kak, aku akan menjawab lamaran kakak dua minggu akan datang. Gimana kakak setuju ngga?”

“Oke. Minggu depan aku akan datang lagi kesini.”

“Minggu depan? Bukannya aku kasih jawabannya dua minggu akan datang?”

“Lah, emangnya aku ngga boleh lagi nich main ke rumah kamu? Aku kan pengin bersilahturahmi aja ma kamu.”

“Oh… Kirain apaan. Tentunya boleh lah kalo kakan main kesini lagi.”

***

Dua minggu telah berlalu begitu cepat. Dan malam ini sudah tiba saatnya aku menjawab lamaran Kak Dimas. Dengan muka merah merona dan detak jantung yang seakan ingin loncat dalam dada, aku bertemu dengan Kak Dimas namun dia tidak sendirian, kali ini dia datang bersama seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan bugar wanita itu bernama Tante Iffah (Ibu Kak Dimas).

“Silahkan masuk Tante Iffah dan Kak Dimas, Rina tinggal sebentar dulu yach.”

“ Nak, kamu mau kemana?”

“Rina mau ke belakang dulu tante, mau panggil ayah sama ibu, sekalian Rina juga mau bikinin Tante Iffah dan Kak Dimas minuman.”

“Udah, kamu ngga usah repot-repot nyiapin sesuatu, pokoknya kamu disini aja temenin tante. Tante kangen banget sama kamu, udah lama yach kamu ngga main ke rumah tante, bukan cuma tante loh yang kangen sama kamu Dede juga kangen sama kamu.”

“Iya tante, aku kangen banget ma Dede soalnya udah lama banget aku ngga main ke rumah tante lagi mungkin sekitar dua bulanan aku ngga pernah main lagi ke rumah tante. Oya tan, Dede emangnya sekarang lagi ada dimana? Dede ngga ikut kesini?”

“Bukannya Dede ngga mau ikut, tapi hari ini dia lagi ikut kursus memasak. Katanya sich mau jago masak juga seperti calon kakak iparnya.”

Dengan muka yang makin memerah, akibat serangan pujian yang Tante Iffah berikan terus menerus yang makin lama membuat aku salah tingkah. Tak beberapa lama kemudian ayah dan ibuku keluar untuk menemui Kak Dimas dengan Ibunya. Dengan sedikit rasa sungkan Kak Dimas lalu beranjak dari sofa kemudian mengucapkan salam kepada ayah dan ibuku.

“Assalamu’alaikum om, tante. Perkenalkan nama saya Dimas Satria Prasetya, maksud kedatangan saya kesini merupakan niat yang baik yaitu untuk melamar anak om dan tante.”

“Waa’laikum salam.”

Dengan mimik wajah yang cukup seius dan agak sedikit jahil, ayahku melontarkan pertanyaan yang sedikit agak konyol.

“Barusan kamu bilang ke saya kalo niat kamu datang kesini untuk melamar anak saya? Emangnya anak saya yang mana yang mau kamu lamar? Kamu tahu kan anak saya itu ada tiga orang? Jadi kamu mau melamar anak saya yang mana?”

“Yang pasti Rina donk om, anak perempuan om satu-satunya. Karena setahu saya anak kedua-dua adiknya Rina itu kan laki-laki, kalo saya memilih salah satu dari anak laki-laki om, berarti jeruk makan jeruk donk om (dengan nada yang sedikit bercanda).”

Semua orang yang berada di ruang tamu tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha… Tapi kamu jangan senang dulu, meskipun saya senang bercanda bukan berarti saya ngga serius. Kamu harus yakinkan saya kalo kamu memang layak menjadi calon pendamping anak saya “Rina”.

“Baik Om, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa benar-benar bisa mempercayai saya bahwa saya memang layak menjadi pendamping hidup Rina.”

“Saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan sama kamu, dan kamu harus jawab dengan jujur.”

“Pertanyaan apa ingin om tanyakan ke saya?”

“Jika saya tidak mengizinkan kamu untuk menikahi anak saya bagaimana perasaan kamu?”

Mendengar pertanyaan yang Ayahku lontarkan dengan kepala yang sedikit merunduk tanpa Kak Dimas sadari, Kak Dimas menitikkan airmata dengan suara yang sedikit sumbang.

“Yang pasti saya sangat kecewa dan sedih Om, karena saya sudah terlalu mencintai Rina dan aku juga ngga mau kehilangan dia.”

“Tapi kenapa kamu menitikkan airmata? Kamu kan seorang laki-laki yang kuat?”

“Seorang laki-laki ngga akan pernah kuat ketika tulang rusuknya itu hilang. Karena tulang rusuk seorang laki-laki itu adalah wanita yang dia cintai. Dan itu sama saja ketika saya mencintai seseorang wanita tapi wanita itu telah meninggalkan saya untuk selama-lamanya.”

“Bukannya banyak tulang rusuk yang lain untuk menggantikan tulang rusuk yang sudah hilang?”

“Memang benar yang Om barusan katakan, tetapi ngga mudah untuk menemukan atau mencari tulang rusuk yang cocok dan sudah pas dengan raga kita.”

Ayah beranjak dari tempat duduknya dan dengan wajah yang sumringah beliau menepuk punggung Kak Dimas yang dibarengi dengan memeluk tubuh Kak Dimas.

“Kamu memang laki-laki yang baik, dan Rina tidak salah jika dia jauh lebih memilih kamu untuk menjadi pendamping hidupnya daripada orang lain. Apalagi setahu Om, kamu ngga pernah menjalin hubungan khusus dengan anak Om. Terlebih lagi saya sangat setuju dengan keputusan Rina untuk menerima lamaran kamu.”

“Makasih, karena Om sudah merestuai hubungan saya dengan Rina. Dan untuk doa restunya.”

Pertemuan keluargaku dengan keluarga Kak Dimas pada malam ini merupakan pertemuan paling bahagia dan juga indah yang pernah aku rasakan. Sebab ternyata perasaan yang selama ini aku pendam padanya, akhirnya mendapatkan jawaban yang selama ini aku impi-impikan. Terima kasih Ya Allah.


Biodata Penulis

Nama : Rifka Nur Ahmida Fh
Perguruan Tinggi : Jurusan Arsitektur di Universitas Negeri Makassar
SMA Negeri 1 Pallangga
Lahir tanggal 02 Mei 1991
Alamat : Sungguminasa, Makassar, Indonesia
Email : farah_haisy@yahoo.com
Facebook : Rifka Nur Ahmida Fh

JANJI RIRI

Malam ini adalah malam yang sangat indah buat Ryan. Karena hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi Ryan, tepatnya pada tanggal 7 Juli ini Ryan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Ryan terus memandang ke arah teman-temannya yang sudah lama menunggu Ryan sedari tadi. Ryan berniat memulai pesta ulang tahunnya sampai Riri “Sang Pujaan Hati” datang. Dengan sabar Ryan menunggu Riri, namun Riri tak kunjung datang.

Riri adalah wanita yang Ryan sayangi, kurang dari setahun Ryan berpacaran dengan wanita yang berwajah oriental itu. Namun akhir-akhir ini, Riri asyik dengan kesibukannya sendiri, yaitu shoping. Meskipun Riri suka shoping, namun Ryan tetap sayang padanya.

Ryan masih menanti Riri, sekitar 1 jam lebih Ryan hanya mondar-mandir di depan Galang dan Raka sahabat karibnya. Melihat Ryan yang gelisah seperti itu Raka berinisiatif untuk menenangkan Ryan.

“Udahlah Yan, lebih baik loe mulai aja pesta ultah loe ini. Lagian ngga enak ama temen-temen yang lain, mereka tuch udah lama nungguin loe. Riri pasti datang demi loe, dia kan sayang banget ama loe”. Tiba-tiba Ryan dikagetkan dengan suara serak-serak basah milik Raka sahabatnya karibnya.

“Bener tuch Yan yang Raka omongin barusan, Riri pasti datang kok”. Galang ikut meyakinkan Ryan.

“By the way, loe ngga lupa kan. Kalo hari ini Riri lagi shoping ke Singapore ?”. Lanjut Galang.

“Emangnya ada yang aneh yach, kalo Riri shoping ? Riri kan cewek, jadi wajar-wajar aja kalo dia suka shoping ?”. Tanya Raka cuek.

“Emang sich ngga ada ada yang aneh dengan Riri, cuma masalahnya udah hampir seminggu Riri belum balik ke Jakarta. Katanya sich, pengen beli sepatu dan aksesoris gitu dech. Sekalian dia juga mau beli-in hadiah special buat loe, loe ngga lupa kan Yan ?”. Ungkap Galang.

“Ya ampun, gue kok bisa lupa sich dengan semua itu ? Padahal Riri sendiri yang langsung ngomong ke gue !”. Jawab Ryan sambil menepuk-nepuk dahinya dengan telapak tangannya.

“Nyantai aja sob, loe ngga usah nepuk-nepuk jidat loe kayak gitu”. Hibur Galang.

“Iya Yan, lebih baik loe nikmatin aja pesta ultah loe malam ini. Ini kan pesta ultah loe yang paling loe tunggu-tunggu, lagian ngga lucu kan kalo pesta loe ini usai sebelum loe ngerayain puncak dari acara loe ini. Yaitu melamar Riri tuk jadi istri loe”. Tambah Raka.

“Loe tenang aja Yan, Riri pasti datang kok. Dia kan udah janji ama loe, kalo malam ini dia bakalan datang dan bawain loe kado special”. Hibur Galang lagi.

“Oya, loe udah hubungi Riri ngga ? Loe tanyain, dia bisa datang atau ngga ?”. Tanya Raka.

“Udah kok, malahan udah berulang-ulang kali gue hubungi dia. Tapi setiap kali gue hubungi dia, yang ada handphone-nya itu ngga aktif”. Jawab Ryan dengan lugunya.

“Kalo gitu, loe mulai aja acaranya. Soalnya temen-temen yang lain udah pada nungguin loe tuch sejak tadi, mungkin aja Riri juga udah datang”. Hibur Galang lagi.

Dengan perasaan yang campur aduk, Ryan mengikuti saran kedua sahabatnya itu. Malam ini Ryan sangat berharap Riri akan datang ke pestanya.

Tiba-tiba handphone Ryan berdering. Dan dalam layar handphone Ryan, tertulis nama Riri “My Honey”. Dengan perasaan yang sangat senang, Ryan menjawab telepon dari Riri.

“Halo Ri ? Kamu jadi kan, datang kesini ? Soalnya aku udah lama nich nungguin kamu. Aku ngga akan mau mulai pestanya kalo kamu belum datang juga”. Ungkap Ryan menggebu-gebu.

“Beibs, maafin aku yach. Aku ngga bisa datang ke pesta ulang tahun kamu malam ini, soalnya aku belum bisa balik ke Jakarta”. Jelas Riri.

“Kok kamu ngga bisa datang sich, bukannya kamu udah janji kalo kamu bisa datang ke pesta ultahku ?”. Tanya Ryan dengan kecewa.

“Emang sich aku udah janji kalo aku bisa datang ke pesta kamu. Tapi aku ngga bisa balik malam ini”. Riri memperjelas maksudnya.

“Ngga bisa gimana maksud kamu ?! Bukannya kamu ke Singapore hanya untuk shoping aja kan ?”. Tanya Ryan.

“Bukan begitu Yan, tapi ada hal penting yang ngga bisa aku omongin lewat telepon”. Jawab Riri sedih.

“Kamu ngga percaya lagi yach ama aku ? Kalo kamu punya masalah, kamu ceritain aja ama aku. Mungkin aja kan, aku bisa bantu ?”. Tanya Ryan lagi.

“Ok, kalo kamu emang butuh penjelasan dariku. Aku akan ceritain yang sebenarnya ama kamu. Tapi kalo aku udah cerita, kamu pasti ngga percaya”. Ungkap Riri.

“Udahlah, kamu jangan buat aku bingung kayak gini”. Ucap Ryan makin penasaran.

“Sebenarnya, tujuan aku ke Singapore itu bukan untuk shoping aja. Tapi aku akan pindah ke Singapore untuk…. ?”. Tiba-tiba suara Riri terhenti.

Ryan semakin penasaran dengan ungkapan Riri barusan. Dan Ryan berharap, Riri tidak mengecewakan Ryan.

“Ri ? Riri? Kamu masih di situ ? Kok tiba-tiba kamu diam sich ?”. Tanya Ryan makin penasaran.

“Eh…. Iya Yan, aku masih dengerin kamu kok. To the point aja yach, aku ke Singapore bukan untuk shoping seperti biasanya. Tapi untuk ngelanjutin kuliah aku sampe aku S2”. Ucap Riri agak gugup.

“Sebenarnya kamu ngerti ngga sich perasaan aku saat ini ? Kamu itu udah ngecewain aku”. Ungkap Ryan.

“Ryan, Please maafin aku. Aku janji besok aku akan balik ke Jakarta sekaligus bawain kamu kado yang udah aku sediain sejak kemarin”. Hibur Riri.

“Ya udah kalo gitu ! Terserah kamu aja !”. Ungkap Ryan dengan sangat kecewa.

Dengan kesal Ryan mematikan handphone-nya.

Beberapa menit kemudian, handphone Ryan berdering. Dalam layar handphone Ryan tertulis satu pesan masuk. Ryan membaca pesan singkat itu, ternyata pesan itu dari Riri. Dan isinya “Beibs, kok handphone kamu dimatiin sich. Aku kan belum selesai ngomong ?”. Setelah Ryan membaca pesan singkat itu, Ryan membalas pesan dari Riri “Meskipun aku ngga ngejelasin ama kamu, kamu pasti udah tahu jawabannya !”. Telah muncul balasan pesan singkat dari Riri “Jadi, kamu marah nich ama aku ? Aku kan cuma becanda, sekarang kamu coba balikkan badan ke belakang. Lalu kamu lihat siapa yang ada di belakang kamu ?!”.

Betapa kagetnya Ryan ketika ia melihat sosok yang ia sayangi, tidak lain sosok yang Ryan maksud itu adalah Riri sang pujaan hatinya.

“Happy birthday yach Beibs, semoga panjang umur, sehat selalu, makin sukses, dan makin tambah sayang ama aku”. Ucap Riri dengan manja.

“Amin…”. Jawab Galang dan Raka bersamaan.

“Riri ? Aku kirain kamu ngga bakalan datang malam ini ?!”. Ungkap Ryan tidak percaya.

“Ngga mungkin banget, aku lebih mementingkan shoping dibandingin kamu. Lagian kalo aku harus memilih antara kamu atau shoping ? Aku pasti lebih pilih kamu”. Ungkap Riri dengan wajah yang merah padam.

“Ehem, ehem, udah dech saling pujinya”. Ledek Raka.

“By the way, kita mulai aja yuk acaranya”. Galang mengingatkan.

Pesta Ryan pun berlangsung dengan meriah.

Saat pesta ulang tahun Ryan usai, Riri mengajak Ryan ke suatu tempat yang Ryan rasa tempat itu tidak asing lagi baginya. Tempat itu merupakan tempat pertama kali mereka bertemu. Mereka menamakan tempat itu sebagai “Taman Cinta”. Di taman itu, Riri memberikan sebuah kado yang telah terbungkus rapi dan tentunya hadiah itu untuk Ryan. Isi kado yang Riri berikan itu berupa biola yang Ryan impi-impikan. Dengan hangatnya Ryan mengucapkan kata “Terima Kasih” pada Riri.

“Trims yach Beibs, atas semuanya. Karena kamu udah bersedia untuk menjadi pacar yang baik untukku selama ini”. Ucap Ryan dengan mesra.

“Iya Beibs, sama-sama”. Balas Riri dengan mesra pula.

Tanpa Riri sadari, sebuah kecupan manis mendarat di kening Riri. Ryan pun membisikkan satu kalimat mesra di telinga Riri dan kalimat itu tidak pernah Riri dengar sebelumnya dari bibir Ryan.

“Will you married me ?”. Tanya Ryan dengan mesra.

“Aku bersedia”. Jawab Riri dengan pasti.

Malam ini begitu indah. Begitu pula dengan kedua hati sejoli yang sedang kasmaran ini.



Biodata Penulis

Nama : Rifka Nur Ahmida Fh
Perguruan Tinggi : Jurusan Arsitektur di Universitas Negeri Makassar
SMA Negeri 1 Pallangga
Lahir tanggal 02 Mei 1991
Alamat : Sungguminasa, Makassar, Indonesia

Email :
farah_haisy@yahoo.com
Facebook : Rifka Nur Ahmida Fh