Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa melupakannya, yang ada dalam pikiranku saat ini hanya ada dia seorang. Dia yang mengubah aku menjadi sosok yang jauh lebih baik, dia satu-satunya cowok yang aku impi-impikan selama ini. Dia adalah cowok termanis yang pernah aku temui. Nama cowok itu Dimas, cowok berkulit putih, bermata belok, berotak cerdas, dan berparas ganteng itu telah memikat hatiku. Dia bagaikan separuh hatiku yang selama ini hilang dalam hidupku.
Selama ini aku memendam perasaanku padanya, pertemuan yang tak sengaja dan tak biasa itu yang membuat aku semakin menyukainya. Aku senang mengenalnya, terkadang aku berharap suatu saat nanti dia akan berbalik menyukaiku. Meskipun sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia tertarik padaku. Sudah lama aku merasakan hal itu, mulai dari caranya memandangiku, bersikap baik padaku, bahkan dia sangat menjaga omongannya setiap berbicara padaku. Apakah itu semua tanda-tanda positif yang dia berikan sebagai ungkapan rasa sayangnya padaku ?! Entahlah.
Suasana kampus hari ini begitu sepi seperti biasa, maklumlah semua mahasiswa sudah tidak begitu rajin lagi datang ke kampus. Lain halnya dengan MaBa (Mahasiswa Baru) semua MaBa berbondong-bondong dengan semangatnya masuk kedalam kelas. Bahkan ada MaBa yang takut datang ke kampus karena embel-embel senior di mata mereka itu sangat menyeramkan dan pastinya mereka takut di pajak-in sama seniornya, ada juga yang dengan beraninya menantang senior dengan sok memberanikan diri. Aduh, pokoknya kacau balau dech !!!
“Udah seminggu belakangan ini, gue kok ngga pernah ngelihat Kak Dimas lagi yach ?!”.
“Ngga usah lebay dech Rin, lagian wajar aja kan kalo Kak Dimas jarang datang ke kampus. Selain karena dia udah sarjana, dia kan juga udah kerja and ngelanjutin kuliah S2-nya di UGM.”
“Iya, gue tahu sich kalo dia udah kerja and ngelanjutin kuliah S2-nya, tapi masa sich dia ngga pernah datang kesini lagi. Dia kan idola gue, jadi wajar banget kan kalo gue kangen?!”
“Apa !!! Lo ngga salah ngomong nich, kalo lo kangen ma Kak Dimas?”
“Kenapa lo kaget? Bukannya lo udah tahu kalo gue emang naksir ma dia.”
“Duh Rin, gue kirain lo itu cuma sekedar kagum doank ma dia. Yang gue tau, lo itu paling susah yang namanya jatuh cinta, kok bisa-bisanya sich lo tuch naksir dia?”
“Tadinya sich, gue juga sempat berpikir sama kayak lo, kalo gue tuch salah mengartikan perasaan gue terhadap Kak Dimas. Apalagi gue kenal ma Kak Dimas hanya dalam kurun waktu yang terlalu singkat, lebih tepatnya sich hanya sekitar tiga bulanan gitu.”
“Tapi lo sendiri yakin ngga ma perasaan lo?”
“Menurut lo?!”
“Yach, kok lo balik nanya gue sich. Tapi kalo menurut gue sich perasaan suka lo ma Kak Dimas tuch standar banget !!!”
“Maksud lo?!”
“Maksud gue, lo itu cuma sekedar kagum aja ma dia. Soalnya setahu gue, yang namanya jatuh cinta itu tanda-tandanya bukan seperti apa yang lo rasain sekarang. Lo ngerti kan maksud omongan gue barusan?”
“Sebenarnya gue tuch bingung dengan perasaan gue sendiri. Di sisi lain gue sering mengagungkan dia, tapi dari lubuk hati yang paling dalam (cieleh…. so sweet !!!) gue ngga bisa nerima kekurangan yang suatu saat akan nampak di depan mata gue sendiri.”
“Gue ngga ngerti maksud ucapan lo barusan?”
“Maksud gue tuch, gue itu ngga bisa nerima kalo suatu saat nanti gue akan lihat sisi negatifnya dia. Karena yang gue tahu, dia tuch udah termasuk tipe cowok yang hampir mendekati kata sempurna.”
“Emang betul kok yang lo ucapin barusan, hanya saja yang perlu lo ingat Kak Dimas tuch hanya manusia biasa yang penuh dengan banyak kekurangan. Jadi, lebih baik lo jangan terlalu memuji atau mengagungkan dia.”
“Lo ada benar juga sich, mungkin ini semua cuma perasaan yang berlebihan aja.”
Begitulah curahan hatiku ke Sinar pada siang itu. Waktu telah berlalu, dan Aku tidak pernah sama sekali melihat Kak Dimas lagi. Meskipun aku masih sering mencari-cari Kak Dimas, ternyata itu semua hanya karena perasaan yang berlebihan saja.
***
Aku tak menyangka bahwa hari sabtu kemarin Kak Dimas datang ke rumah dengan membawa setangkai bunga mawar merah yang masih terbungkus rapih nan indah.
“Assalamu’alaikum, Rin.”
“Wa’alaikum salam. Eh… Kak Dimas, silahkan masuk kak. Oya Kak Dimas kesini ma siapa?”
“Aku datang sendirian kok kesini. Oya ini untuk kamu.” Jawab Kak Dimas dengan memberikan setangkai bunga mawar merah.
“Makasih yach kak. By The Way bukannya Kak Dimas ngga tahu alamat rumah aku?”
“Rin… Rin… Aku kan punya mulut untuk nanya alamat rumah kamu ke teman kamu.”
“Benar juga sich. Terus, maksud kedatangan Kak Dimas kesini itu untuk apa? Maaf yach kak, kalo aku banyak nanya?”
“Ngga papa kok. Ehm… Maksud kedatangan aku kesini untuk membicarakan hal yang penting dan serius ma kamu.”
“Emangnya hal serius apa yang ingin kakak bicarakan ma aku?”
“Sebelumnya maafin aku, karena aku ngga pernah peka dengan perasaan yang selama ini aku rasain ke kamu.”
“Maksudnya? Aku ngga ngerti dengan omongan kakak barusan?”
“Maksud aku, selama ini aku udah menjadi orang yang sangat bodoh. Karena aku selalu menghindar dari kamu.”
“Menghindar dari aku? Aku semakin ngga ngerti dengan omongan kakak? Kalo begitu, aku ambilin kakak minuman dulu yach, mungkin dengan meminum secangkir teh manis hangat, kakak bisa bicara dengan tenang.”
Aku berlalu secepat mungkin kedalam dapur untuk menyiapkan minuman untuk Kak Dimas dengan harapan agar dia jauh lebih tenang. Tak lama kemudian aku menyajikan minuman di atas meja dan mempersilahkan Kak Dimas untuk meminum secangkir teh manis hangat buatanku.
Setelah meminum secangkir teh yang sudah aku sajikan Kak Dimas pun memulai pembicaan yang tertunda tadi, dengan menarik nafas yang panjang, Kak Dimas memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah, makasih yach Rin untuk teh manisnya. Huft… Sebenarnya aku itu… Eng… A… a…. ku… Aku…”
“Kok Kak Dimas jadi gagap gitu sich, emangnya aku nakutin yach sampe-sampe Kak Dimas susah untuk ngomong?”
“Eh, bukan… bukan begitu maksudku… Ehm… Kamu jangan salah paham dulu yach, soalnya aku sama sekali ngga bermaksud buat kamu jadi bingung kayak gini. Karena sebenarnya aku emang rada-rada susah untuk ngomong masalah ini.”
“Aduh… Sekali lagi maaf yach kak, soalnya aku malah makin ngga ngerti nich dengan maksud Kak Dimas. Yang ada aku malah makin penasaran?!”
“Bismillahirrahmanirrahim. Rin, semenjak aku mulai kenal ma kamu, aku udah terlanjur jatuh cinta ma kamu.”
“Hah?! Kak Dimas jatuh cinta ma aku? Emangnya aku ngga salah dengar nich? Udah dech kak, ngga usah bercanda kayak gini. Ngga lucu tahu ngga?!”
“Bercanda? Siapa yang bercanda? Aku ngga lagi bercanda Rin, aku serius dengan apa yang aku ucapin barusan. Aku Jatuh Cinta ma Kamu. Dan hal itu ngga akan bisa aku hapus dari hati aku, karena perasaan itu udah lama ada.”
“Udah lama ada? Emangnya sejak kapan Kak Dimas ngerasa kalo kakak itu jatuh cinta ma aku?”
“Semenjak kamu menitikkan airmata di depan aku. Kamu ingat kan, dengan kejadian beberapa waktu lalu itu? Dan sampai sekarang aku ngga bisa ngelupain kamu dari ingatan aku.”
“Selama itukah Kak Dimas memendam perasaan ke aku? Bukannya waktu itu Kak Dimas udah punya pacar? Bahkan Kak Dimas sendiri yang tanpa sengaja menceritakan pacar kakak itu dengan rasa bangga di depan aku?”
“Aku ngga pernah bangga mempunyai pacar seperti mantan aku itu, karena aku jauh lebih bangga dan bahagia jika kamu yang selalu ada di dekat aku untuk detik ini, besok dan seterusnya.”
“Tapi kenapa Kak Dimas baru mengatakan hal ini sekarang? Selama ini aku hanya menyangka kakak baik ma aku, karena kakak udah anggap aku seperti adik Kak Dimas sendiri. Aku sama sekali ngga pernah punya khayalan kalo Kak Dimas punya perasaan itu ke aku.”
“Rin, aku udah jatuh cinta ma kamu. Dan perasaan aku itu udah lama bersemi dihatiku, jadi aku mohon ke kamu, please jangan tolak aku. Karena aku merasa kalo kamu adalah Jodoh yang telah Allah SWT kirimkan untuk aku. Karena aku berharap kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti bukan perempuan lain.”
“Menjadi ibu dari anak-anak Kak Dimas nantinya?”
“Iya. Tujuan aku datang ke rumah kamu malam ini, karena aku ingin melamar kamu untuk menjadi pendamping hidup aku. Apakah kamu mau menikah denganku?”
“Aku butuh waktu kak untuk menjawab pertanyaan kakak barusan. Karena masih banyak kewajibanku yang harus aku tunaikan. Salah satunya adalah kewajiban aku sebagai seorang mahasiswi yang untuk sekarang belum bisa aku tinggalkan.”
“Tapi sampai kapan aku nungguin jawaban yang pasti dari kamu? Sebab aku butuh jawaban kamu secepatnya?”
“Baik kak, aku akan menjawab lamaran kakak dua minggu akan datang. Gimana kakak setuju ngga?”
“Oke. Minggu depan aku akan datang lagi kesini.”
“Minggu depan? Bukannya aku kasih jawabannya dua minggu akan datang?”
“Lah, emangnya aku ngga boleh lagi nich main ke rumah kamu? Aku kan pengin bersilahturahmi aja ma kamu.”
“Oh… Kirain apaan. Tentunya boleh lah kalo kakan main kesini lagi.”
***
Dua minggu telah berlalu begitu cepat. Dan malam ini sudah tiba saatnya aku menjawab lamaran Kak Dimas. Dengan muka merah merona dan detak jantung yang seakan ingin loncat dalam dada, aku bertemu dengan Kak Dimas namun dia tidak sendirian, kali ini dia datang bersama seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan bugar wanita itu bernama Tante Iffah (Ibu Kak Dimas).
“Silahkan masuk Tante Iffah dan Kak Dimas, Rina tinggal sebentar dulu yach.”
“ Nak, kamu mau kemana?”
“Rina mau ke belakang dulu tante, mau panggil ayah sama ibu, sekalian Rina juga mau bikinin Tante Iffah dan Kak Dimas minuman.”
“Udah, kamu ngga usah repot-repot nyiapin sesuatu, pokoknya kamu disini aja temenin tante. Tante kangen banget sama kamu, udah lama yach kamu ngga main ke rumah tante, bukan cuma tante loh yang kangen sama kamu Dede juga kangen sama kamu.”
“Iya tante, aku kangen banget ma Dede soalnya udah lama banget aku ngga main ke rumah tante lagi mungkin sekitar dua bulanan aku ngga pernah main lagi ke rumah tante. Oya tan, Dede emangnya sekarang lagi ada dimana? Dede ngga ikut kesini?”
“Bukannya Dede ngga mau ikut, tapi hari ini dia lagi ikut kursus memasak. Katanya sich mau jago masak juga seperti calon kakak iparnya.”
Dengan muka yang makin memerah, akibat serangan pujian yang Tante Iffah berikan terus menerus yang makin lama membuat aku salah tingkah. Tak beberapa lama kemudian ayah dan ibuku keluar untuk menemui Kak Dimas dengan Ibunya. Dengan sedikit rasa sungkan Kak Dimas lalu beranjak dari sofa kemudian mengucapkan salam kepada ayah dan ibuku.
“Assalamu’alaikum om, tante. Perkenalkan nama saya Dimas Satria Prasetya, maksud kedatangan saya kesini merupakan niat yang baik yaitu untuk melamar anak om dan tante.”
“Waa’laikum salam.”
Dengan mimik wajah yang cukup seius dan agak sedikit jahil, ayahku melontarkan pertanyaan yang sedikit agak konyol.
“Barusan kamu bilang ke saya kalo niat kamu datang kesini untuk melamar anak saya? Emangnya anak saya yang mana yang mau kamu lamar? Kamu tahu kan anak saya itu ada tiga orang? Jadi kamu mau melamar anak saya yang mana?”
“Yang pasti Rina donk om, anak perempuan om satu-satunya. Karena setahu saya anak kedua-dua adiknya Rina itu kan laki-laki, kalo saya memilih salah satu dari anak laki-laki om, berarti jeruk makan jeruk donk om (dengan nada yang sedikit bercanda).”
Semua orang yang berada di ruang tamu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha… Tapi kamu jangan senang dulu, meskipun saya senang bercanda bukan berarti saya ngga serius. Kamu harus yakinkan saya kalo kamu memang layak menjadi calon pendamping anak saya “Rina”.
“Baik Om, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa benar-benar bisa mempercayai saya bahwa saya memang layak menjadi pendamping hidup Rina.”
“Saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan sama kamu, dan kamu harus jawab dengan jujur.”
“Pertanyaan apa ingin om tanyakan ke saya?”
“Jika saya tidak mengizinkan kamu untuk menikahi anak saya bagaimana perasaan kamu?”
Mendengar pertanyaan yang Ayahku lontarkan dengan kepala yang sedikit merunduk tanpa Kak Dimas sadari, Kak Dimas menitikkan airmata dengan suara yang sedikit sumbang.
“Yang pasti saya sangat kecewa dan sedih Om, karena saya sudah terlalu mencintai Rina dan aku juga ngga mau kehilangan dia.”
“Tapi kenapa kamu menitikkan airmata? Kamu kan seorang laki-laki yang kuat?”
“Seorang laki-laki ngga akan pernah kuat ketika tulang rusuknya itu hilang. Karena tulang rusuk seorang laki-laki itu adalah wanita yang dia cintai. Dan itu sama saja ketika saya mencintai seseorang wanita tapi wanita itu telah meninggalkan saya untuk selama-lamanya.”
“Bukannya banyak tulang rusuk yang lain untuk menggantikan tulang rusuk yang sudah hilang?”
“Memang benar yang Om barusan katakan, tetapi ngga mudah untuk menemukan atau mencari tulang rusuk yang cocok dan sudah pas dengan raga kita.”
Ayah beranjak dari tempat duduknya dan dengan wajah yang sumringah beliau menepuk punggung Kak Dimas yang dibarengi dengan memeluk tubuh Kak Dimas.
“Kamu memang laki-laki yang baik, dan Rina tidak salah jika dia jauh lebih memilih kamu untuk menjadi pendamping hidupnya daripada orang lain. Apalagi setahu Om, kamu ngga pernah menjalin hubungan khusus dengan anak Om. Terlebih lagi saya sangat setuju dengan keputusan Rina untuk menerima lamaran kamu.”
“Makasih, karena Om sudah merestuai hubungan saya dengan Rina. Dan untuk doa restunya.”
Pertemuan keluargaku dengan keluarga Kak Dimas pada malam ini merupakan pertemuan paling bahagia dan juga indah yang pernah aku rasakan. Sebab ternyata perasaan yang selama ini aku pendam padanya, akhirnya mendapatkan jawaban yang selama ini aku impi-impikan. Terima kasih Ya Allah.
Biodata Penulis
Rifka Nur Ahmida FhAlamat : Sungguminasa, Makassar, Indonesia
farah_haisy@yahoo.com
Facebook : Rifka Nur Ahmida Fh
.jpg)
